Selasa, 06 Desember 2022

Iri

Kadang masih tersemat iri dalam hati. Pada mereka yang bersuamikan lelaki taat, hangat, dan semanhaj.
Diri bertanya-tanya, kenapa aku tak bisa mendapatkannya?
Padahal dulu aku ada di sana, di circle mereka. Tapi lalu jauh dan semakin jauh. Di sini aku sekarang.

Tapi kemudian aku sadar diri, aku tak seistimewa itu. Mungkin aku tak sepantas itu dengan kondisi imanku. Aku masih ingin, menjadi diriku yang dulu, di lingkungan yang dulu.

Namun, aku tak lupa, ada banyak hal yang kusyukuri sekarang. Bagaimanapun, kamu dan anak-anak kita adalah rejekiku.

Jumat, 11 November 2022

Cuti

Menghitung hari, kembali ke sekolah lagi. Pikiran sudah melayang-layang. Haruskah kubawa bayi merahku yang masih dua minggu? Atau haruskah ku tinggal ia dan memberinya susu formula?

Kadang kesal dengan kepala sekolah yang memberi jatah cuti  cuma 40 hari. Padahal harusnya bisa 3 bulan. Yah, tapi mau bagaimana lagi. Sebentar lagi ulangan semester. Dan kelas 4 tak bisa kutinggal. Bulan sibuk, tugas menumpuk. Tak mungkin aku bersantai-santai sendirian.

Belum masuk sekolah, tapi pikiran sudah tak tentu arah. Membayangkan segala hectic dan kerempongan yang ada di depan mata. Hhh...sanggupkah?

Pilihan ini memang kubuat sendiri. Jadi kudu sabar menanggung konsekuensi. Allah, berilah kekuatan pada diri ini.

Jumat, 07 Januari 2022

Kenangan

 Ada masa ketika musim semi utuh di hatiku

Bunga - bunga bermekaran
Segala rupa, rasa dan cinta
Begitu ranum di masa muda

Ada masa ketika semua tinggal kenangan
Dikikis kenyataan
Hilang tersapu rutinitas yang membosankan

Ada kalanya aku rindu
Semua canda tawa yang malu - malu
Bersama orang di masa lalu

Tapi waktu bukanlah kereta
Yang bisa berjalan mundur
Ia membawa seisi dunia
Menuju takdir berikutnya

Ah, biarlah
Aku ingin mengenang sedikit saja
Waktu - waktu yang berharga
Sebelum usia terus membawa
Kepada jenjang lupa

7 Januari 2021

Teruntuk Mertuaku

 Mengungkapkan luka, hari ini, esok, atau nanti, akan tetap sama sakitnya.

Sakit karena dikhianati
Sakit karena dibohongi
Sakit karena, semua terasa tak berarti lagi

Tapi...
Seorang wanita
Mampu memilih menyimpan luka itu
Rela memendam semua kepahitan itu
Demi anak-anaknya
Demi rumah tangganya
Meskipun...
Ia sendiri akan hancur
Ditelan kegundahan hati

Kurang apakah engkau berkorban
Menelan semua penderitaan
Mencoba mengerti, mencoba pahami
Menahan lisan untuk bertanya
Meski penasaran menghantui

Kutahu engkau tak sempurna
Engkau bengkok sebagaimana para wanita
Namun, tak berarti engkau pantas disiksa
Dengan dihunjam beribu-ribu luka

Bersabarlah, Bu
Semoga semua derita, luka dan airmata
Akan jadi tabungan amalmu di sisiNya
Meski dunia ini terasa sempit dan menyiksa
Kuharap kau bahagia di surgaNya

Jangan bersedih, Bu
Segalanya adalah takdir Tuhan
Sebagaimana hidup adalah ujian
Ada hisab tuk semua perbuatan
Yang kan terbuka di hari penghakiman

Ujian Sesungguhnya


Selamat, Buk
Kamu sudah menyakiti hati kami
Membuat kami menangis
Membuat kami bingung bagaimana bertahan di bulan2 kedepan

Kamu tidak peduli
Dengan kondisi ekonomi kami
Dengan kelangsungan hidup kami
Dengan ayah yang harus memberi makan anak istri

Hanya karena membabi buta dengan aturan
Yang tak sepenuhnya berisi keadilan
Kamu hanya dengki dalam hati
Dan menyimpan kejengkelan sendiri

Meskipun yang lainnya memberi pemakluman
Dan masih membuka kesempatan
Kamu malah mengompor-ngompori
Agar mereka dipecat dini

Kamu sungguh tak punya hati, Buk
Percuma tampilanmu religi
Berbuat baik hanya kepada kawanmu saja
Tak peduli orang lain menderita

Aku ingat hari ini, Buk
Hari dimana kamu buat kami menderita
Dengan memotong jalan rejeki kami
Tanpa peduli masa pandemi
Ataukah sekedar bertanya, masih adakah tabungan kami

Aku mengadu pada Robbku, Buk
Setidaknya Dia akan menegurmu
Agar lebih berbelas kasih dan manusiawi
Kepada teman seperjuangan dan seprofesi
Semoga nanti kamu tidak sombong lagi
Karena harta hanyalah titipan ilahi