Kamis, 23 Agustus 2018

Kado

Aku teringat, seseorang memberi kado pakaian bayi di hari pernikahanku. Awalnya aku hanya tertawa saja, "masa baru nikah udah dikasih pakaian bayi? Hehe ... masih lama lah itu."

Tapi takdir seolah mengaminkan maksud si pengirim kado tersebut.
Ya, tak lama kemudian aku benar-benar hamil. Allah sungguh mengijabahnya.

Sekarang aku justru bersyukur dengan kado yang menjadi doa itu. Jazaakillah khairan ya sahabatku. Mungkin lain kali aku juga akan memberi kado seperti itu juga, supaya jadi doa untuk si pengantin baru #ups 😁

Selasa, 10 Juli 2018

Sesuatu yang Tak Bisa Kujelaskan

Aku juga mau mendapatkan itu. Sungguh. Aku sudah berusaha dan berdoa. Tapi mungkin belum cukup kuat caraku, tidak sepertimu. Kamu yang sungguh beruntung dengan semuanya, Allah mudahkan untukmu. Ya, itu rejekimu. Tak apa, sesungguhnya aku mencoba untuk tidak menyesal dengan semua yang terjadi.

Tapi, tahukah apa yang selalu menyedihkan hatiku? Kata-kata itu. Kamu yang mengumbar keberuntungan itu, lantas memandang hina orang yang tak mendapatkannya, seperti aku. Entah, itu mungkin hanya prasangkaku saja, tapi jujur aku ikut merasa, karena yaa aku ada di posisi itu sekarang.

Aku tak mungkin lagi berkata, "seandainya tak kupilih jalan itu". Sebab kutahu semua adalah takdir-Nya, yang ditujukan untukku pasti akan jadi milikku, sedangkan yang bukan untukku tidak mungkin kumiliki.

Aku hanya ingin kau tahu, tidak ada yang ideal dalam hidup seseorang. Bisa jadi itu adalah ujian bagiku, sedangkan kamu punya ujian yang lain. Aku tak ingin mendengar penghakimanmu, tapi jika kamu mendoakanku agar tetap kokoh di jalan ini bersamanya, kurasa itu lebih dari cukup.

Kumohon, jangan menggiringku untuk menjadi kufur nikmat dengan apa yang sudah kumiliki. Jangan membuatku berkubang dalam penyesalan yang menghantui seumur hidup. Biarkan aku menjalaninya dengan bahagia. Itu saja.

Minggu, 17 Juni 2018

Kejamnya Prasangka

Siapa yg tak sakit hati, jika mengetahui prasangka di kepala orang lain justru lebih sadis dibanding versi kebenaran nyatanya. Terkadang kita begitu kejam menghakimi dan berprasangka buruk, bahkan kepada orang lain yg tak melakukan sesuatu apa pun.

Siapa yg tak sedih mendengar pengungkapan itu dari orang lain, sebuah perkataan yg lahir dari prasangka lalu menimbulkan kebencian begitu saja. Bagaimana aku kan dapat menjelaskan, sedang ungkapan itu hanya berasal dari sangkaannya belaka,   dan itupun tak disampaikan padaku, tapi justru orang lain yg tak ada hubungannya.

Aku tak mengerti, orang ingin terlihat menjalin hubungan baik tapi justru menusuk dari belakang, memang tren kah? Kebiasaan kah?

Satu hal yg amat mengerikan. Prasangka memang tuduhan paling mematikan, sebab ia tumbuh dari satu pikiran saja, pikiran menghakimi. Lalu, tanpa kejelasan apa pun, kita divonis bersalah.

*Aku percaya, amat percaya ... seseorang yg mencela orang lain  didepanmu, akan mencelamu di depan orang lain pula.

Selasa, 22 Mei 2018

Aku Tak Bisa Egois Lagi

Kelak, saat kau sepertiku, harus berbagi tubuh dengan makhluk kecil yg bersemayam di rahim, kau tak akan bisa egois lagi.
Ya, kini tubuhku bukan hanya milikku, tapi juga "dia". Aku harus menarik diriku sendiri dari prioritas, lalu mengutamakannya.
Mungkin 3 bulan lalu aku masih bisa naik motor ala Rossi, menerjang jalan berlubang dengan kecepatan 80 km/jam, tapi sekarang mataku harus jeli memilih jalan paling mulus dan minim goncangan.
Mungkin sebelumnya aku masih rakus melahap apa saja, mulai dari sayur, daging, seafood dan cemilan, tapi kini 3 sendok nasi pun bisa membuatku mual.
Ya, dulu aku bisa begitu egois dengan hidupku, melakukan apa saja yg kusuka, tapiiii sejak gelar calon ibu kusandang bersamaan dengan hadirnya di rahimku, semua perhatianku beralih padanya.
Jadi, kepada egoisme masa muda, kuucapkan selamat tinggal ya, aku sedang belajar menjadi ibu yg dewasa 😘💖