Jumat, 01 September 2017

Zulfikar Mau Hijrah

Zulfikar mau hijrah, katanya. Gara-gara ia terlanjur kecewa setelah gadis pujaannya, Neng Mar'ah, kabarnya sudah dikhitbah seorang pemuda lulusan pondok pesantren.

Ia menggerutu di teras rumahku selama 2 jam. Tanpa berhenti, tanpa spasi. Hanya ketika suaranya serak di menit ke 90, ia meneguk segelas kopi yang tergeletak di atas meja, sudah dingin pula.

"Biar sudah aku jadi jomblo fi sabilillah,"ujarnya.
"Aku akan ikhlaskan Neng Mar'ah,  kalau memang laki-laki itu sungguh baik untuk dia," agak getir ia mengucapkan sederet kalimat itu.

"Sudahlah,  Bro. Mungkin memang belum jodoh. Lagian kau juga yang salah. Cewek seperti itu diajak pacaran. Jelaslah  ditolak. Hehehe,"timpalku sekenanya.
Tapi aku ikut mendukung niatnya itu. Walaupun hijrahnya belum lillahi ta'ala,  siapa tahu nanti hidayah sungguh menyapa hatinya.

Zulfikar mau hijrah, katanya. Tapi, di masjid pun aku tak pernah melihat hidungnya. Di majelis taklim tidak ada jejak kakinya. Cuma di media sosial isi hatinya berceceran kemana-mana. Topiknya tidak jauh seputar jomblo fi sabilillah, cinta datang pada waktunya,  menunggu yang jauh di sana, rindu pada entah siapa, sampai perihal move on yang tidak jadi-jadi juga.

"Katanya mau hijrah, Bro," tukasku suatu kali, saat berkunjung ke rumahnya dan melihat ia sibuk mengetuk keyboard untuk mengirim status baru.
"Iya,  lagi proses ni,  San. Tuh, lihat statusku."

<< Kuyakin Tuhan akan mengirimkan wanita yang lebih baik darimu. Semangat jomblo sampai halal >>

"Pantesan hijrahmu gak maju-maju, Zul," ujarku menghela napas.
"Emang kenapa,  San? Ada yang salah sama kata-kata itu?"
"Bukan gitu, Bro. Katanya mau hijrah, tapi yang dipikirin masalah cinta terus. Kalau begini mah, bukan jomblo fi sabilillah, tapi jomblo tersiksa. Hahaha."

"Ah, jahat lu, Bro. Terus mesti gimana dong?"
"Mending deketin diri sama Allah. Yah, mulai biasakan shalat berjama'ah di masjid, ikut kajian Islam dan semacamnya. Biar sibuk sama hal bermanfaat."

"Oh, jadi caramu kayak gitu juga, San?" Pantesan, gak pernah denger kamu nyebutin nama cewek. Tiap hari sibuk ngajar santri kan, hehehe." Zul nyengir sambil ngejek.
"Iya, yakin aja jodoh itu pasti bertemu. Tapi gak perlu dipikirin terus kapan ketemunya. Bikin galau."

Zulfikar tampak memahami maksudku. Beberapa saat kemudian ia menghapus status-status galau dari dinding facebooknya.
"Oh iya, Zul, hampir lupa. Nih ada titipan undangan buat kamu. Aku balik dulu ya."
"Dari siapa, San?"
"Baca aja sendiri lah," ujarku sambil menghidupkan motor.
Zul membaca nama yang tertera di undangan itu sementara motorku mulai bergerak meninggalkan pekarangan rumahnya.

Ahsan Wiryawan bin Wirya
dengan
Mar'ah Shalihah binti Shaleh

Ia bangkit dari kursinya.
"WOI BRO ... BERHENTIII!!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar